Cak Dul si penjual nasi goreng yang rendah hati
Nasi goreng sudah lama menjadi makanan favorit siapa saja. Terutama di malam hari—saat sebagian orang masih terjaga, perut mulai keroncongan, dan keheningan terasa terlalu panjang. Di saat-saat seperti itulah, nasi goreng selalu jadi jawaban.
Di Desa Meraung, Cak Dul dikenal sebagai penjual nasi goreng dengan rasa yang sulit dilupakan. Bumbunya pas, aromanya menggoda, dan ada satu varian pedas gila yang konon hanya ia sendiri yang tahu racikannya. Arip termasuk salah satu penggemarnya. Setiap kali pulang kampung, hal pertama yang ia cari bukan rumah, melainkan gerobak nasi goreng Cak Dul.
Namun wabah misterius yang melanda Desa Meraung merenggut nyawa Cak Dul. Kepergiannya menyisakan duka bagi warga—sebuah kehilangan kecil yang terasa besar.
Kepulangan Arip kali ini berbeda dari sebelumnya. Ia belum tahu apa-apa. Baginya, desa tampak seperti biasa. Malam itu, ia melihat gerobak nasi goreng Cak Dul masih ada. Api kompor menyala, wajan berdenting pelan. Tanpa curiga, Arip memesan seporsi nasi goreng.
Cak Dul ada di sana. Namun ia tampak aneh. Wajahnya kosong, tak sepatah kata pun keluar meski Arip mencoba mengajak bicara. Tangannya bergerak pelan, mekanis, seolah mengulang kebiasaan lama tanpa perasaan. Saat Arip menoleh sesaat, sosok itu… menghilang begitu saja.
Panik, Arip berlari menyusuri jalan desa. Nafasnya terengah, jantungnya berdegup tak karuan. Ketika akhirnya bertemu warga lain dan menceritakan apa yang ia lihat, wajah mereka langsung berubah pucat.
Mereka hanya berkata pelan:
Cak Dul sudah meninggal baru saja dan warga sedang sibuk mengurusi jenazahnya.

Komentar
Posting Komentar