Lik Tun penjual jajanan sarapan yang selalu rajin bangun pagi memanjagan perut lapar warga Desa Meraung

Di Desa Meraung, pagi selalu diawali oleh aktivitas Lik Tun. Saat embun masih menggantung di daun dan udara desa terasa dingin, ia sudah sibuk menata dagangannya. Dari rumah sederhananya, aroma gorengan hangat perlahan menyebar, menjadi penanda bahwa hari baru telah dimulai.


Lik Tun menjajakan berbagai jajanan tradisional: bakwan renyah, pentol goreng, onde-onde, klepon, lumpia, dan masih banyak lagi. Bagi warga desa, lapaknya bukan sekadar tempat membeli makanan, melainkan titik pertemuan—tempat kabar beredar, cerita dibagikan, dan rutinitas pagi dijalani seperti biasa.


Banyak orang di Desa Meraung memiliki perasaan yang sama terhadap Lik Tun: kesal, namun sekaligus sayang. Wajahnya selalu tampak garang dan ekspresinya kerap membuat orang enggan berlama-lama menatap. Nada bicaranya pun sering terdengar ketus, seolah ia selalu sedang kesal pada dunia. 

Namun di balik kesan menyebalkan itu, Lik Tun sebenarnya berhati lembut. Ia tak pernah menolak anak-anak yang kekurangan uang, sering memberi lebih tanpa diminta, dan diam-diam membantu warga yang sedang kesusahan. Sosoknya memang sulit disukai pada pandangan pertama, tetapi justru itulah yang membuatnya sulit dilupakan.

Komentar

Postingan Populer