Lik Min petani bawang merah yang tinggal di Desa Meraung
Lik Min dikenal sebagai petani bawang merah di Desa Meraung. Setiap musim tanam, ladang-ladangnya selalu memerah oleh hasil panen. Sesekali ia menanam padi dan jagung, namun bawang merah tetap menjadi sumber hidup utamanya—dan kelak, saksi bisu dari nasib tragis yang menimpanya.
Tak ada yang menyangka, kebaikannya pada suatu siang justru menjadi awal petaka. Setelah menolong tetangganya yang sekarat di tengah jalan desa, Lik Min diduga tertular penyakit dari wabah misterius yang diam-diam mengintai. Malam itu juga, ajal menjemputnya.
Kejadiannya bermula ketika warga menemukan Pak Wiryo tergeletak di jalan tanah, tubuhnya kejang-kejang tak terkendali. Lik Min, yang kebetulan melintas, segera berlutut di sampingnya. Ia mencoba menyadarkan Pak Wiryo, memanggil namanya berkali-kali, menahan tubuhnya yang menggeliat. Namun usaha itu sia-sia. Kejang semakin hebat, mulut Pak Wiryo mulai berbusa, napasnya tersengal, hingga akhirnya tubuh itu terkulai lemas—mati di hadapan mata Lik Min.
Warga pun berkumpul, suasana berubah riuh dan panik. Jenazah Pak Wiryo segera diurus, doa-doa dipanjatkan, namun rasa takut mulai merayap di benak semua orang.
Ketakutan itu terbukti nyata saat malam tiba.
Di rumahnya sendiri, Lik Min mendadak menggeliat di lantai. Tubuhnya kejang seperti orang kesurupan, matanya melotot kosong, napasnya tersengal tak beraturan. Tak ada yang sempat menolong. Sebelum fajar menyingsing, Lik Min telah menyusul Pak Wiryo dalam keadaan tak bernyawa.
Sejak malam itu, Desa Meraung tak lagi sama. Wabah misterius itu mulai merenggut warga satu per satu, meninggalkan ketakutan, bisik-bisik, dan bau kematian yang seakan tak pernah benar-benar pergi.

Komentar
Posting Komentar