Desa Meraung, sebuah desa sunyi di selatan pulau Jawa

Di sebelah selatan dan timur Pulau Jawa, tersembunyi di antara lembah sunyi dan jajaran pegunungan yang diselimuti hutan lebat, berdirilah sebuah desa terpencil bernama Desa Meraung.


Desa itu tampak begitu asri dan tenang, seolah terpisah dari hiruk-pikuk dunia luar. Jumlah warganya sangat sedikit—hanya delapan rumah yang berdiri saling berjauhan, namun terikat oleh rasa kebersamaan yang kuat. Di tempat itu, kehidupan mengalir sederhana; warganya hidup rukun, damai, dan tampak bahagia… setidaknya begitulah yang terlihat di permukaan.


Saat kakimu melangkah memasuki desa ini, sebuah gerbang tua bertuliskan “Selamat Datang” berdiri menyambut di hadapanmu. Catnya mulai pudar, namun tetap tegak seolah menjadi penjaga pertama Desa Meraung. Beberapa langkah ke depan, di sisi kiri jalan, tampak sebuah pos kamling sederhana—tempat warga biasa berjaga saat malam tiba, mengusir sunyi dan rasa waswas yang datang bersama gelap.


Tak jauh dari situ, jalan bercabang dua. Tepat di persimpangan jalan itu, berdiri rumah Lik Tun, seorang ibu-ibu berbadan kurus pendek penjual makanan. Setiap pagi ia jual jajanan sarapan di depan rumahnya.



Ke arah kiri, deretan rumah warga menyambut dalam jarak yang tidak terlalu rapat. Rumah pertama adalah milik Cak Dul, penjual nasi goreng yang dikenal oleh hampir semua warga desa. Di sebelahnya berdiri rumah Paman Arip, tenang dan nyaris selalu tertutup.


Sementara itu, jika kamu memilih belok ke kanan, terdapat tiga bangunan rumah yang berdiri berurutan. Yang pertama adalah rumah kedua Pak Agung yang dikontrakkan dan ditinggali oleh Om Adi yang buka jasa pengiriman paket desa. Berikutnya rumah Mbah Rebo, sosok sepuh yang menjabat sebagai Pak RT, dan setelahnya rumah Lik Min, yang terlihat paling sunyi di antara ketiganya.

Menariknya, baik jalan ke kiri maupun ke kanan dari persimpangan itu sama-sama berujung pada satu tempat: sebuah sumur tua yang berdiri tak jauh dari mushalla desa. Sumur tersebut tampak telah ada sejak lama, seakan menyimpan lebih banyak kisah daripada yang berani diungkapkan oleh warga.

Di samping mushalla berdiri rumah Pak Agung, tuan tanah yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Desa Meraung. Sebagian besar tanah di desa itu berada di bawah kepemilikan keluarganya. Bahkan, beberapa area penting—seperti makam desa dan mushalla—pada awalnya merupakan tanah milik leluhurnya yang telah diwakafkan sejak masa buyut Pak Agung masih hidup. Kekayaan dan warisan itu kini sepenuhnya berada di tangannya.

Jika dari arah sumur kamu melangkah terus ke selatan, jalan akan membawamu ke makam warga desa, tempat suasana berubah menjadi lebih hening. Tak jauh dari sana terdapat rumah Pak Wiryo. Dan bila kamu terus berjalan melewati rumahnya, di ujung jalur itu menjulang Menara BTS Selatan—sebuah menara seluler yang menjadi salah satu penghubung Desa Meraung dengan dunia luar.

Sebaliknya, dari arah rumah yang ditinggali Om Adi, jika kamu mengikuti jalan setapak yang menyempit, perjalananmu akan berakhir di Menara BTS Utara, yang mana kedua menara ini sering kali rusak dan warga sering mengeluh karenanya ketika sinyal seluler tiba-tiba hilang dan mereka tiadak bisa berkomunikasi.

Komentar

Postingan Populer